News

BSC : Deep Structure. Deep Impact.

Sejak kemunculannya pada tahun 1992, BSC telah menjadi tool terpopuler dalam sistem manajemen strategis abad ini. Banyak korporasi dan perusahaan publik baik di Indonesia maupun dunia menerapkan BSC. Namun sayang! Di Indonesia hasilnya masih kurang memuaskan. Banyak organisasi di Indonesia belum berhasil menerapkan BSC (kalau tidak ingin dikatakan “gagal”). Mirip seperti keris jawa yang dibeli orang bule, tidak “sesakti” dan “sekeramat” aslinya. Faktanya, banyak perusahaan di Amerika Serikat sukses menerapkan BSC. Bahkan tidak sedikit diantaranya adalah organisasi pemerintah/ public organization . Lantas mengapa BSC belum memberikan real benefit bagi organisasi kita?

Seringkali kita melihat meski BSC merupakan tool terkini, ia masih berisi conventional wisdom yang tidak cocok lagi di era informasi. Padahal era informasi sudah sangat berbeda dengan era sebelumnya. Kompetisi dan tuntutan masyarakat makin personal dan sophisticated . Dibutuhkan cara-cara luar biasa untuk bisa memenuhi harapan pelanggan/masyarakat, bahkan melampaui harapan mereka. Ketika tidak ada perubahan content , BSC hanyalah sebuah insanity. Yakni menginginkan hasil yang berbeda dengan cara yang sama, begitu kata Einstein.

Kemudian, katakanlah BSC sudah berisi strategi kontemporer yang cantik. Namun mengapa masih sering terjadi mis-aligned , kurang fokus, resource terbuang, dan reward yang tidak tepat sasaran? BSC seharusnya melibatkan semua unsur dalam organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Bersinergi dengan komitmen tinggi harus tercermin dalam organisasi implementor BSC. Tapi bagaimana caranya?

Disisi lain, jika berbicara mengenai eksekusi strategi, tercatat hanya 10% perusahaan yang berhasil melaksanakan strategi. Angka tersebut berdasar riset Balanced Scorecard Collaborative (BSCol) beberapa tahun silam. Saya yakin angka itu belum banyak berubah. Eksekusi strategi selalu tidak maksimal meski berisi strategi jitu menghadapi persaingan dalam agile -nya era informasi itu.

Ketiga hal tersebut diatas menimbulkan pertanyaan apa sebenarnya hal yang paling fundamental dari BSC yang harus dipenuhi. Apa saja deep structure BSC? Mulyadi dalam bukunya Sistem Manajemen Strategik Berbasis Balanced Scorecard (2005) menyatakan bahwa setidaknya ada tiga sikap mental yang melandasi BSC, yakni:

•  Self Awareness

•  Sense of Responsibility

•  Sense of Integrity

Self Awareness

BSC dipicu oleh perencanaan yang didasari oleh kesadaran diri bahwa “kita lah yang menjadi pencipta masa depan kita” ( we are the creator of our own future ). Kesadaran diri ini menggerakkan seluruh anggota organisasi untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab bahwa merekalah yang harus memilih masa depan yang dikehendaki bersama dan langkah-langkah yang diambil untuk mewujudkan masa depan tersebut. Tanpa kesadaran ini, perencanaan sesungguhnya tidak akan terjadi, dan mereka membiarkan masa depan organisasi ditentukan oleh pihak lain. BSC berawal dari perencanaan masa depan yang matang dan identifikasi faktor lingkungan internal-eksternal yang cermat. Perencanaan tersebut mampu mendobrak conventional wisdom yang berkembang di masanya dan berani menentukan pilihan masa depan.

Sense of Responsibility

Setelah kesadaran diri tersebut muncul sebagai basis yang kuat dalam perencanaan, sikap mental berikutnya adalah rasa tanggung jawab untuk menyusun rencana yang dilakukan untuk mewujudkan masa depan kita – “we are responsible for writing our own script” . Susunan rencana ini menjadi pemacu proses perencanaan dan merupakan penerjemahan masa depan organisasi (misi, visi, values dan strategi) ke dalam langkah-langkah bersama yang ditempuh. Jika semua anggota organisasi terlibat dalam penerjemahan masa depan organisasi dan menyusun bersama langkah-langkah yang dilakukan, yang terjadi adalah sinergi yang luar biasa. Tidak hanya alignment , bisa jadi merupakan sebuah resonansi dalam organisasi!

Sense of Integrity

Selanjutnya adalah sebuah kewajiban untuk merealisasikan rencana dan langkah-langkah bersama tersebut. Sikap mental yang dibutuhkan adalah integritas, to walk the talk . Jika kesadaran diri merupakan pemicu perencanaan, tanggung jawab adalah pemacu perencanaan, dan integritas adalah pemacu eksekusi rencana. Tanpa sikap mental ini, masa depan hanya sebuah ilusi/ mental creation , bukan physical creation .

Dengan deep structure tersebut, BSC mampu menjawab ketiga permasalahan diatas. Karena BSC bukan hanya sebuah tool namun sebuah framework berpikir yang sistematis untuk mewujudkan masa depan. Tak heran jika selayaknya organisasi implementor BSC akan merasakan benefit yang sesungguhnya. Sebuah deep impact , sebuah hasil yang direncanakan! Sudahkan kita memiliki sikap mental tersebut? Ups…terserah Anda!

(Indra Budiwibowo/310706)

 

 

News

Balanced Scorecard

Forum Investasi Menggugah Kepercayaan Diri?

Ketika ditanya wartawan apa kiat untuk menarik investor...

Deep Structure, Deep Impact

Sejak kemunculannya pada tahun 1992…

Strategy Focused Business Planning

Focused Budgeting on Strategy

Penyusunan anggaran tradisional tidak lagi relevan…

Beyond Budgeting

Why we still do Budgeting?

Budgeting memiliki sisi positif yaitu pada komitmen dan …

2006 PT SMF Indonesia - Sampoerna Strategic Square Tower B 17 th Floor Jl. Jend Sudirman Kav. 45-46 Ph. +6221 2514349 Fax. +6221 2510863